Kamis, 12 November 2015

Sebatang Kara ~~~~By : Sekar



SEBATANGKARA
Karya: Aryana Sekar Widyaningsih

            “Mbah Laras berangkat dulu ya.” Pamitku pada nenek sambil mencium tanganya.
            “Iyo Nduk, ngati-ati yo. ” Jawabnya. Dan segera meneruskan pekerjaanya di dapur.
            Sejak aku lahir aku hidup bersama Nenek ku. Menjadi beban bagi nenek yang berumur 80 tahun itu.Aku merasa sangat bersalah. Tapi siapa lagi yang bisa aku mintai tolong? Hidupku sebatang kara? Kata tetangga sebelah rumah,Ibukusudah lama meninggalkanku sejak aku terlahir di dunia, danAyahku pergi merantau entah kemana. Namun bertahun-tahun lamanya dia tak kembali ke kampung halamannya ini. Lika-liku hidup ini pun hanyakurasakan bersama enek ku ini. Dan belajar menghadapi keras nya perjuangan hidup dari Nenekku.
            Ras, ojo lali *Gendolo ne digowo yo.” Teriak nenekkumengingatkanku akan kewajibanku.
            Sambil melangkahkan kaki disetiap perjalanan ke sekolah,kubawa beberapa kantong kresek berisi *Gendolo yang kutitipkan diwarung-warung langganan nenekku. Ini memang tak seberapa tapi bisa menyambung hidup ku dan nenek setiap harinya.
            Sekarang aku sudah kelas 2 SMP, biaya sudah tak sama lagi ketikaaku masih SD. Aku semakin merasa bersalah kepada Nenekku karena semakin membebaniya. Setiap *Gendolo hanya kuhargai Rp 500 rupiah saja. Karena menyadari sudah tak banyak orang yang tertarik memakanya. Sangat bersyukur jika sehari bisa habis terjual, karena setidaknya aku dan nenek mendapat uang Rp 15.000 rupiah. Kutabung Rp 2000 rupiah dan sebagian ku berikan pada nenekku.
            “Mbah besok laras libur.” kataku pada nenekku ketika kami sedang membuat adonan *Gendolo di dapur sederhana kami. Sejak perkataanan itu kuawalisebuah percakapan.
            Ono opo nduk kok libur?” tanya nenek ku melihat kearah ku.
            “Buguru dan Bapak guru ada rapat Mbah” jelasku pada nenek. Berharap dia memaklumi perkataanku.
            Oalah yo nduk, sesok rewangi gowo *Gendolo ning warung ya Ras mumpung lagi libur.” Kata nenekkuyang terlihat bahagia ketika sedikit penderitaannya berkurang karenaku.
            “Iya Mbah.” Jawabku sambil menganggukan kepala.
            Sebenarnya tak ada libur hanya saja aku tak mau mengikuti kegiatan sekolah, Study tour. Aku sadar diri orang sepertiku tak ada biayauntuk ikut. Jadi, aku putuskan untuk melibur dan membantu nenekku. Meski dalam hati kecilku ingin sekaliseperti temanku lainya. Tetapi aku harus mengerti bagaimana keadaan keluarga, untuk biayasekolahku saja masih kekuranganhingga tak ada lagi yang bisa kuharapkan selain membantu nenekku bekerja.
            “Mbah, *Gendolo sing niki ajeng dititipke pundi Mbah?” tanyaku pada nenek setelah kupegang sekantong kresek yang berisi beberapa *Gendolo.
            Titipke warung e Bu Dini Ras. ” jawab nenekku dari dapur.
            Nggih mbah.” Jawabku dan segera melakasanakan perintahnya itu.
            Bu Dini adalah seseorang yang sangat berjasa bagi ku dan nenek. Dia adalah seeorang yang kaya tapi senang berbagi dengan orang yang bernasib seperti diriku. Seperti waktu itu,ketika aku masih kelas 1 SMP aku sempat dikeluarkan karena aku tak bisa membayar uang bulanan sekolah, tba-tiba Bu Dini datang kerumah dan menyuruh ku bersekolah kembali. Katanya, aku mendapat beasiswa. Padahal aku tahu tak ada sepeser beasiswa untuku, Bu Dini lah yang memberikan beasiswa padaku sepenuhnya. Meski dia tak mengataknya kepadaku dan nenekku, aku tahu kebenaranya ketika semua teman kelas ku tahu kalau Bu Dini lah yang membayar sekolahku ini.
            “Eh Laras, hari selasa kok libur ?” tanya Bu Dini padaku ketika aku sampai diwarungnya.
            “Iya Bu, mau mbantu nenek saja, daripada ikut study tour.” Jawabku padanya  menjelaskan apa yang terjadi disekolah, tentu saja tanpa penjelasan panjang Bu Dini sudah memahaminya.
            “Loh ya malah bagus Ras.” Jawab bu Dini sambil mengembalikan uang hasil penjualan *Gendolo ku kemarin.
            “Terimakasih banyak ya Bu.” Kataku setelah mendapatkan uluran uang dari Bu Dini.
            “Besok bisa kesini tidak Ras, sekalian kalo siang pulang sekolah bantu ibu jaga warung. Sepi loh kalo Cuma ibuk sendirian.” Katanya tiba-tiba ketika aku sudah membalikan badan untuk beranjak pergi. Tak menyia-nyiakan kesempatan mendapat kan pekerjaan setelah pulang sekolah untuk membantu meringankan beban nenekku. Segera kuanggukan kepalaku tanda setuju, kemudian meminta izin pulang kepada Bu Dini. Sungguh sangat senang mendengar tawaran itu, itu bisa menjadi kabar baik bagi nenekku dirumah.
            Sampai dirumah kuceritakan semua yang terjadi di warung Bu Dini kepada nenekku, nenekku sangat senang ketika dia tahu aku mendapatkan pekerjaan di rumah Bu Dini.
            Hari berikutnya tiba, seperti yang dikatan bu Dini kemarin, tentu saja siang itu aku menuju kewarungnya dan siap membantunya. Dengan berbekal rasa senang dan terharu dengan kondisi ini. Kuucapkan salam semangat ketika menginjak halaman warung itu.
            “Assalamuallaikum.. bu Dini” ucapku.
            “Wallaikumsallam. oh iya sini Laras, masuk saja.”jawab bu Dini mempersilakan diriku masuk ke bagian dalam warung itu.
            “Iya buk.” Jawabku, sambil beranjak menuju kearahnya.
            Sambil menunggu pembeli, Bu Dini menceritakan tentang keluarganya. Suami dan anaknya yang sering tidak dirumah. Suaminya yang bekerja sebagai pelaut jarang sekali pulang, mungkin sekitar 2-3 bulan baru pulang. Begitu juga dengan anaknya yang sibuk kuliah diluar kota. Dia dirumah sendirian, hanya ditemani seorang pembantu. Mendengar cerita seperti itu aku teringat ayahku yang sudah tak kuharapkan lagi kepulanganya dari entah itu merantau atau sikap yang tidak mau bertanggung jawabnya itu terhadap anaknya.
            Setelah melewati banyak percakapan, Bu Dini tiba-tiba beranjak pergi kerumahnya yang berada disebelah kanan warungnya ini. Dia mempercayakan warungnya padaku. Aku merasa senang ketika aku diberi kepercayaan seperti ini, dan aku bertekad untuk menunjukan kerja terbaiku pada Bu Dini.
            Malam tiba, tepat pukul 16.30 sehabis maghrib, Aku pamit pulang. Aku tau seorang yang sudah keriput kulitnya tapi masih terlihat sangat cantik masih menunggu, dan tak lain dia adalah Nenekku. Nenek yang sudah menjadi orang tua bagiku. Nenek segera menanyakan bagaimana rasanya bekerja dengan bu Dini. Tentu saja kujawab semua pertanyaan nenekku itu jujur. Dan selebihnya nenek juga merasa bahagia. Aku tahu nenek bahagia bukan karena aku bekerja tapi aku bisa merasakan namanya bersama dengan seorang yang mirip dengan Ibu. Meski bu Dini bukan ibuku, tetapi didekatnya aku selalu berangan-angan kalau ibuku yang di Surga pasti berhati mulia seperti bu Dini.
            Malam tiba, udara terasa sangat dingin.
            Ndukpundhutakakekemulningnduwurkasur.” Kata nenekku meminta tolong padaku. Segera kuambilkan selimut yang dimaksud olehnya. Kulihat tubuh nenekku, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya terasa dingin ketika kusadari setelah kusentuh tanganya. Kuambilkan segelas minum hangat, dan kaos kaki miliknya. Lalu  kupakaikan kekaki nya yang menggigil itu. Kutemaninya hingga tertidur malam itu. Nenekku sering sakit seperti, tapi syukurlah penyakit seperti ini hanya bertahan selam beberapa saat saja. Mungkin ini karena faktor usia, kupikir wajar saja itu. Yang terpenting istirahat pasti sembuh.
            Siang itu hari kedua ku bekerja diwarung Bu Dini dengan mencangking beberapa butir *Gendolo  seperti biasa yang kubuat sendiri pagi tadi, tapi sungguh sangat dikecewakan hari keduaku bekerja, aku sudah minta pulang lebih awal dari biasanya.
            “Maaf uk, nanti saya boleh pulang lebih awal. Nenek saya sedang sakit, tidak tega kalau saya tinggal sampai malam.” jelasku pada bu Dini.
            “Kamu pulang sekarang saja.” Jawab bu Dini.
            “loh bu kok sekarang?” sanggahku sedikit terkejut mendengar jawaban bu Dini.
            “Kamu libur tidak apa-apa, temani nenek mu, kasihan dia. Nanti malam kalau ibu sudah selesai, nanti nengok kerumahmu.” Jelasnya sama sekali tidak terdengar ada nada kemarahan.
            “Tidak usah repot-repot bu, diizinkan pulang saja saya sudah senang.” Jawabku sangat lega setelah mendengar penjelasan bu Dini.
            “Ya, sudah sana. Hati-hati ya Ras. Ini bawakan sekalian untuk nenekmu.” Ucap bu Dini sambil memberiku obat yang diambilnya dari warung untuk nenek.  Kuucapkan terimakasih berkali-kali melihat kebaikan bu Dini pada ku dan nenek.
            Kuarahkan kakiku kearah kamar nenekku setelah sampai dirumah. Kubuka pintu, kulihat nenek semakin menggigil kedinginan. Kutemani dia, kugenggam tangannya untuk memberi rasa hangat padanya. Biasanya ketika sudah kutemani,kondisi nenekku akan mulai membaik. Kuambilkan segelas air dan ku suapi nenekku obat yang diberikan bu Dini tadi. Kuharap dengan nenekku lekas sembuh. Beberapa menit kemudian nenekku bisa tertidur, mungkin itu adalah efek dari obat yang baru saja kuberikan.
            Selang beberapa jam-jam, ketukan pintu terdengar. Benar bu Dini datang malam itu, dibawanya sekantong plastik yang tak kuketahui isinya. Mungkin saja makanan layaknya menjenguk orang yang sakit.
            “Ras bagaimana kondisi nenekmu?” tanya bu Dini segera setelah kupersilakan masuk kedalam rumah jelekku ini.
            “Alhamdullilah buk, lebih baik dari pada esok tadi. Nenek baru saja tertidur.” jelasku pada Bu Dini dengan wajah yang lega.
            “Syukurlah kalau begitu Ras.” Jawab ku, bu Dini terlihat lega juga setelah mendengar jawabanku.
            Kami habiskan waktu untuk mengobrol tentang kondisi disekolahku dan kondisi nenekku. Namun, tiba-tiba bu Dini mengatakan kalau dirinya besok mengizinkanku tidak berangkat kewarung jika kondisi nenekku masih sakit. Mendengar bu Dini yang bisa memahami kondisi yang kurasakan saat ini, aku merasa sangat beruntung mengenalnya dan bekerja dengan orang sepertinya. Malam itu semakin larut, bu Dini juga segera pamit, aku pun mengantarkanya sampai depan rumah. Mendapat kunjungan dari bu Dini aku merasa sangat senang. Malam itu terasa terlewat begitu lama, mungkin karena yang aku terus terjaga untuk memantau kondisi neneku.
            “Alhamdullilah mbah, sudah tidak panas lagi.” Kataku sangat lega setelah kusentuh kening nenekku, nenekku terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Nenekku terlihat tersenyum melihat ekspresiku yang begitu lega dan bahagia.
            Syukurlah nanti siang aku sudah bisa berangkat kerja ke bu Dini tanpa mengecewakanya lagi, meskipun bu Dini mengatakan tak apa. Aku ingin membalas semua kebaikannya itu padaku dan nenek dengan giat bekerja. Selain ituaku pun bisa menjual*Gendolo bauatan ku dan nenek lagi siang itu. Lega sekali setelah kondisi menjadi seperti biasanya.
            Esok datang seperti biasanya setiap berangkat sekolah ku bawa beberapa kantong berisi *Gendolo untuk kutitipkan kewarung-warung. Berpamitan kepada nenekku setelah semua pekerjaan rumah juga telah kuselesaikan.
            “Mbah, Laras berangkat dulu ya.” Ucapku sambil mencium kedua tangan nenekku.
            “Iya nduk, ngati-ati,  Jogo awakmu yo nduk.” Nasihat nenekku sebelum aku berangkat.
            Kulangkahkan kaki dengan sangat bersemangat, aku pikir tanpa kehadiran Ayahku aku sudah sangat bersyukur hidup bersama dengan nenekku, aku juga bersyukur bertemu dengan orang sebaik bu Dini. Aku berjanji pada diriku sendiri suatu nanti akan membalas semua kebaikan bu Dini setelah besar nanti.
            Sepulang sekolah, seperti biasanya aku ambil jatah *Gendolo untuk warung bu Dini dan kubawa sekalian ketika aku berangkat kesana. Aku berpamitan kepada nenekku sebelum berangkat kewarung. Dari dalam kamar nenek sudah menjawab ucapaanku. Aku rasa nenek tidak apa-apa setelah kudengar suaranya menjawab pamitanku.
Siang itu warung bu Dini ramai pembeli, sampai-sampai aku dan bu Dini kewalahan. Tentu saja aku merasa tidak enak jika meninggalkan pekerjaanku begitu saja ketika bu Dini membutuhkan bantuanku. Dari siang itu aku baru bisa pulang pukul 8 malam. Itupun masih kusisakan beberapa pekerjaan yang akan kulanjutkan besok.
            Kumasuki rumah, kupanggil-panggil nenekku, kulihat dapur, kamar mandi dan bagian rumah lainya. Kuteriakan namanya. Tetapi tidak ada jawaban sama-sekali. Sungguh aku merasa khawatir dengan keberadaan nenekku, kutanyakan ketetanggaku, tak ada satupun yang melihat nenekku. Merasa bersalah diriku karena meninggalkannya dirumah sendiri hingga selarut ini. Kucari dimanapun, termasuk disetiap sudut rumah. Hinggaku putus asa mencarinya, kuharap nenekku hanya sedang pergi keluar rumah saja, dan kutunggu kepulangannya. Sambil menunggunya kembali kurebahkan badanku ini kekasur kamar nenekku dan kuambil selimut untuk menghangatkan tubuhku, kutarik selimut.
            “Simbah................” setelah kulihat tubuh kurus dan wajah pucat orang yang kucari-cariterlihattersenyumtakberdaya.kupanggil namanya, kugerakan badannya hingga kuajukan beberapa pertanyaan padanya, tak ada sepatah jawaban darinya. Pikirku dangkal tak ada harapan lagi. Sudahlah diriku kini sebatangkara. Hanya sepatah kata terakhir dari nenekku yang kupunya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar