Karya: Aryana Sekar Widyaningsih
“Mbah
Laras berangkat dulu ya.” Pamitku pada nenek sambil mencium tanganya.
“Iyo
Nduk, ngati-ati yo. ” Jawabnya. Dan
segera meneruskan pekerjaanya di dapur.
Sejak
aku lahir aku hidup bersama Nenek ku. Menjadi beban bagi nenek yang berumur 80
tahun itu.Aku merasa sangat bersalah. Tapi siapa lagi yang bisa aku mintai
tolong? Hidupku sebatang kara? Kata tetangga sebelah rumah,Ibukusudah lama
meninggalkanku sejak aku terlahir di dunia, danAyahku pergi merantau entah
kemana. Namun bertahun-tahun lamanya dia tak kembali ke kampung halamannya ini.
Lika-liku hidup ini pun hanyakurasakan bersama enek ku ini. Dan belajar
menghadapi keras nya perjuangan hidup dari Nenekku.
“Ras,
ojo lali *Gendolo ne digowo yo.” Teriak nenekkumengingatkanku akan
kewajibanku.
Sambil
melangkahkan kaki disetiap perjalanan ke sekolah,kubawa beberapa kantong
kresek berisi *Gendolo yang
kutitipkan diwarung-warung langganan nenekku. Ini memang tak seberapa tapi bisa
menyambung hidup ku dan nenek setiap harinya.
Sekarang
aku sudah kelas 2 SMP, biaya sudah tak sama lagi ketikaaku masih SD. Aku semakin
merasa bersalah kepada Nenekku karena semakin membebaniya. Setiap *Gendolo hanya kuhargai Rp 500 rupiah
saja. Karena menyadari sudah tak banyak orang yang tertarik memakanya. Sangat
bersyukur jika sehari bisa habis terjual, karena setidaknya aku dan nenek
mendapat uang Rp 15.000 rupiah. Kutabung Rp 2000 rupiah dan sebagian ku berikan
pada nenekku.
“Mbah
besok laras libur.” kataku pada nenekku ketika kami sedang membuat adonan *Gendolo di dapur sederhana kami. Sejak
perkataanan itu kuawalisebuah
percakapan.
“Ono opo nduk kok libur?” tanya nenek ku
melihat kearah ku.
“Buguru
dan Bapak guru ada rapat Mbah” jelasku pada nenek. Berharap dia memaklumi
perkataanku.
“Oalah yo nduk, sesok rewangi gowo *Gendolo ning warung ya Ras mumpung lagi libur.”
Kata nenekkuyang
terlihat bahagia ketika sedikit penderitaannya berkurang karenaku.
“Iya
Mbah.” Jawabku sambil menganggukan kepala.
Sebenarnya
tak ada libur hanya saja aku tak mau mengikuti kegiatan sekolah, Study tour.
Aku sadar diri orang sepertiku tak ada biayauntuk ikut. Jadi, aku putuskan untuk
melibur dan membantu nenekku. Meski dalam hati kecilku ingin sekaliseperti
temanku lainya. Tetapi aku harus mengerti bagaimana keadaan keluarga, untuk
biayasekolahku saja masih kekuranganhingga tak ada lagi yang bisa kuharapkan
selain membantu nenekku bekerja.
“Mbah,
*Gendolo sing niki ajeng dititipke pundi
Mbah?” tanyaku pada nenek setelah kupegang sekantong kresek yang berisi
beberapa *Gendolo.
“Titipke warung e Bu Dini Ras. ” jawab
nenekku dari dapur.
“Nggih mbah.” Jawabku dan segera
melakasanakan perintahnya itu.
Bu
Dini adalah seseorang yang sangat berjasa bagi ku dan nenek. Dia adalah
seeorang yang kaya tapi senang berbagi dengan orang yang bernasib seperti
diriku. Seperti waktu itu,ketika aku masih kelas 1 SMP aku sempat dikeluarkan
karena aku tak bisa membayar uang bulanan sekolah, tba-tiba Bu Dini datang
kerumah dan menyuruh ku bersekolah kembali. Katanya, aku mendapat beasiswa.
Padahal aku tahu tak ada sepeser beasiswa untuku, Bu Dini lah yang memberikan
beasiswa padaku sepenuhnya. Meski dia tak mengataknya kepadaku dan nenekku, aku
tahu kebenaranya ketika semua teman kelas ku tahu kalau Bu Dini lah yang
membayar sekolahku ini.
“Eh
Laras, hari selasa kok libur ?” tanya Bu Dini padaku ketika aku sampai
diwarungnya.
“Iya
Bu, mau mbantu nenek saja,
daripada ikut study tour.” Jawabku padanya
menjelaskan apa yang terjadi disekolah, tentu saja tanpa penjelasan
panjang Bu Dini sudah memahaminya.
“Loh
ya malah bagus
Ras.” Jawab bu Dini sambil mengembalikan uang hasil penjualan *Gendolo ku kemarin.
“Terimakasih
banyak ya Bu.” Kataku setelah mendapatkan uluran uang dari Bu Dini.
“Besok
bisa kesini tidak Ras, sekalian kalo siang pulang sekolah bantu ibu jaga
warung. Sepi loh kalo Cuma ibuk sendirian.” Katanya tiba-tiba ketika aku sudah
membalikan badan untuk beranjak pergi. Tak menyia-nyiakan kesempatan mendapat
kan pekerjaan setelah pulang sekolah untuk membantu meringankan beban nenekku.
Segera kuanggukan kepalaku tanda setuju, kemudian meminta izin pulang
kepada Bu Dini. Sungguh sangat senang mendengar tawaran itu, itu bisa menjadi
kabar baik bagi nenekku dirumah.
Sampai
dirumah kuceritakan semua yang terjadi di warung Bu Dini kepada nenekku, nenekku
sangat senang ketika dia tahu aku mendapatkan pekerjaan di rumah Bu Dini.
Hari
berikutnya tiba, seperti yang dikatan bu Dini kemarin, tentu saja siang itu aku
menuju kewarungnya dan siap membantunya. Dengan berbekal rasa senang dan
terharu dengan kondisi ini. Kuucapkan salam semangat ketika menginjak halaman
warung itu.
“Assalamuallaikum..
bu Dini” ucapku.
“Wallaikumsallam.
oh iya sini Laras, masuk saja.”jawab bu Dini mempersilakan diriku masuk ke
bagian dalam warung itu.
“Iya
buk.” Jawabku, sambil beranjak menuju kearahnya.
Sambil
menunggu pembeli, Bu Dini menceritakan tentang keluarganya. Suami dan anaknya
yang sering tidak dirumah. Suaminya yang bekerja sebagai pelaut jarang sekali
pulang, mungkin sekitar 2-3 bulan baru pulang. Begitu juga dengan anaknya yang sibuk
kuliah diluar kota. Dia dirumah sendirian, hanya ditemani seorang pembantu.
Mendengar cerita seperti itu aku teringat ayahku yang sudah tak kuharapkan lagi
kepulanganya dari entah itu merantau atau sikap yang tidak mau bertanggung
jawabnya itu terhadap anaknya.
Setelah
melewati banyak percakapan, Bu Dini tiba-tiba beranjak pergi kerumahnya yang
berada disebelah kanan warungnya ini. Dia mempercayakan warungnya padaku. Aku
merasa senang ketika aku diberi kepercayaan seperti ini, dan aku bertekad untuk
menunjukan kerja terbaiku pada Bu Dini.
Malam
tiba, tepat pukul 16.30 sehabis maghrib, Aku pamit pulang. Aku tau seorang yang
sudah keriput kulitnya tapi masih terlihat sangat cantik masih menunggu, dan
tak lain dia adalah Nenekku. Nenek yang sudah menjadi orang tua bagiku. Nenek
segera menanyakan bagaimana rasanya bekerja dengan bu Dini. Tentu saja kujawab
semua pertanyaan nenekku itu jujur. Dan selebihnya nenek juga merasa bahagia.
Aku tahu nenek bahagia bukan karena aku bekerja tapi aku bisa merasakan namanya
bersama dengan seorang yang mirip dengan Ibu. Meski bu Dini bukan ibuku, tetapi
didekatnya aku selalu berangan-angan kalau ibuku yang di Surga pasti berhati
mulia seperti bu Dini.
Malam
tiba, udara terasa sangat dingin.
“Ndukpundhutakakekemulningnduwurkasur.” Kata nenekku meminta
tolong padaku. Segera kuambilkan selimut yang dimaksud olehnya. Kulihat tubuh
nenekku,
wajahnya terlihat pucat, tubuhnya terasa dingin ketika kusadari setelah kusentuh
tanganya. Kuambilkan segelas minum hangat, dan kaos kaki miliknya. Lalu kupakaikan kekaki nya yang menggigil itu. Kutemaninya
hingga tertidur malam itu. Nenekku sering sakit seperti, tapi syukurlah
penyakit seperti ini hanya bertahan selam beberapa saat saja. Mungkin ini
karena faktor usia, kupikir wajar saja itu. Yang terpenting istirahat pasti
sembuh.
Siang
itu hari kedua ku bekerja diwarung Bu Dini dengan mencangking beberapa butir *Gendolo seperti biasa yang kubuat sendiri pagi tadi,
tapi sungguh sangat dikecewakan hari keduaku bekerja, aku sudah minta pulang
lebih awal dari biasanya.
“Maaf
uk, nanti saya boleh pulang lebih awal. Nenek saya sedang sakit, tidak tega kalau
saya tinggal sampai malam.” jelasku pada bu Dini.
“Kamu
pulang sekarang saja.” Jawab bu Dini.
“loh
bu kok sekarang?” sanggahku sedikit terkejut mendengar jawaban bu Dini.
“Kamu
libur tidak apa-apa, temani nenek mu, kasihan dia. Nanti malam kalau ibu sudah
selesai, nanti nengok kerumahmu.” Jelasnya sama sekali tidak terdengar ada nada
kemarahan.
“Tidak
usah repot-repot bu, diizinkan pulang saja saya sudah senang.” Jawabku sangat
lega setelah mendengar penjelasan bu Dini.
“Ya,
sudah sana. Hati-hati ya Ras. Ini bawakan sekalian untuk nenekmu.” Ucap bu Dini
sambil memberiku obat yang diambilnya dari warung untuk nenek. Kuucapkan terimakasih berkali-kali melihat
kebaikan bu Dini pada ku dan nenek.
Kuarahkan
kakiku kearah kamar nenekku setelah sampai dirumah. Kubuka pintu, kulihat nenek
semakin menggigil kedinginan. Kutemani dia, kugenggam tangannya untuk memberi
rasa hangat padanya. Biasanya ketika sudah kutemani,kondisi nenekku akan
mulai membaik. Kuambilkan segelas air dan ku suapi nenekku obat yang diberikan
bu Dini tadi. Kuharap dengan nenekku lekas sembuh. Beberapa menit kemudian nenekku
bisa tertidur, mungkin itu adalah efek dari obat yang baru saja kuberikan.
Selang
beberapa jam-jam, ketukan pintu terdengar. Benar bu Dini datang malam itu, dibawanya
sekantong plastik yang tak kuketahui isinya. Mungkin saja makanan layaknya
menjenguk orang yang sakit.
“Ras
bagaimana kondisi nenekmu?” tanya bu Dini segera setelah kupersilakan masuk
kedalam rumah jelekku ini.
“Alhamdullilah
buk, lebih baik dari pada esok tadi. Nenek baru saja tertidur.” jelasku pada Bu
Dini dengan wajah yang lega.
“Syukurlah
kalau begitu Ras.” Jawab ku, bu Dini terlihat lega juga setelah mendengar jawabanku.
Kami
habiskan waktu untuk mengobrol tentang kondisi disekolahku dan kondisi nenekku.
Namun, tiba-tiba bu Dini mengatakan kalau dirinya besok mengizinkanku tidak
berangkat kewarung jika kondisi nenekku masih sakit. Mendengar bu Dini yang
bisa memahami kondisi yang kurasakan saat ini, aku merasa sangat beruntung
mengenalnya dan bekerja dengan orang sepertinya. Malam itu semakin larut, bu
Dini juga segera pamit, aku pun mengantarkanya sampai depan rumah. Mendapat
kunjungan dari bu Dini aku merasa sangat senang. Malam itu terasa terlewat
begitu lama, mungkin karena yang aku terus terjaga untuk memantau kondisi
neneku.
“Alhamdullilah
mbah, sudah tidak panas lagi.” Kataku sangat lega setelah kusentuh kening nenekku,
nenekku terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Nenekku terlihat tersenyum
melihat ekspresiku yang begitu lega dan bahagia.
Syukurlah
nanti siang aku sudah bisa berangkat kerja ke bu Dini tanpa mengecewakanya
lagi, meskipun bu Dini mengatakan tak apa. Aku ingin membalas semua kebaikannya
itu padaku dan nenek dengan giat bekerja. Selain ituaku pun bisa menjual*Gendolo bauatan ku dan nenek lagi siang
itu. Lega sekali setelah kondisi menjadi seperti biasanya.
Esok
datang seperti biasanya setiap berangkat sekolah ku bawa beberapa kantong
berisi *Gendolo untuk kutitipkan
kewarung-warung. Berpamitan kepada nenekku setelah semua pekerjaan rumah juga telah
kuselesaikan.
“Mbah,
Laras berangkat dulu ya.” Ucapku sambil mencium kedua tangan nenekku.
“Iya
nduk, ngati-ati, Jogo awakmu yo nduk.”
Nasihat nenekku sebelum aku berangkat.
Kulangkahkan
kaki dengan sangat bersemangat, aku pikir tanpa kehadiran Ayahku aku sudah
sangat bersyukur hidup bersama dengan nenekku, aku juga bersyukur bertemu
dengan orang sebaik bu Dini. Aku berjanji pada diriku sendiri suatu nanti akan
membalas semua kebaikan bu Dini setelah besar nanti.
Sepulang
sekolah, seperti biasanya aku ambil jatah *Gendolo
untuk warung bu Dini dan kubawa sekalian ketika aku berangkat kesana. Aku
berpamitan kepada nenekku sebelum berangkat kewarung. Dari dalam kamar nenek
sudah menjawab ucapaanku. Aku rasa nenek tidak apa-apa setelah kudengar
suaranya menjawab pamitanku.
Siang itu warung bu Dini ramai pembeli,
sampai-sampai aku dan bu Dini kewalahan. Tentu saja aku merasa tidak enak jika
meninggalkan pekerjaanku begitu saja ketika bu Dini membutuhkan bantuanku. Dari
siang itu aku baru bisa pulang pukul 8 malam. Itupun masih kusisakan beberapa
pekerjaan yang akan kulanjutkan besok.
Kumasuki
rumah, kupanggil-panggil nenekku, kulihat dapur, kamar mandi dan bagian rumah
lainya. Kuteriakan namanya. Tetapi tidak ada jawaban sama-sekali. Sungguh aku
merasa khawatir dengan keberadaan nenekku, kutanyakan ketetanggaku, tak ada
satupun yang melihat nenekku. Merasa bersalah diriku karena meninggalkannya
dirumah sendiri hingga selarut ini. Kucari dimanapun, termasuk disetiap sudut
rumah. Hinggaku putus asa mencarinya, kuharap nenekku hanya sedang pergi keluar
rumah saja, dan kutunggu kepulangannya. Sambil menunggunya kembali kurebahkan
badanku ini kekasur kamar nenekku dan kuambil selimut untuk menghangatkan
tubuhku, kutarik selimut.
“Simbah................”
setelah kulihat tubuh kurus dan wajah pucat orang yang kucari-cariterlihattersenyumtakberdaya.kupanggil
namanya, kugerakan badannya hingga kuajukan beberapa pertanyaan padanya, tak
ada sepatah jawaban darinya. Pikirku dangkal tak ada harapan lagi. Sudahlah
diriku kini sebatangkara. Hanya sepatah kata terakhir dari
nenekku yang kupunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar