Jejak Cinta dari
Tepian Kapuas
Judul novel : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2013
Tebal : 512 halaman
“Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah,
dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikitpun rasa
cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi”
Novel
ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang pemuda bernama Borno. Borno
lahir dan besar di kota yang penuh dengan sejarah mistis, Pontianak. Ia
disebutkan sebagai ‘bujang berhati paling lurus sepanjang tepian Kapuas’ , tapi
hidupnya tidak se’lurus’ sebutannya. Ayahnya tersengat ubur-ubur saat melaut memilih
untuk mendonorkan jantungnya pada seorang pasien gagal jantung. Pilihan ayahnya
membawa konsekuensi pada berakhirnya detak jantung ayah Borno. Sejak itulah
Borno menjadi anak yatim.
Sejak
ditinggal ayahnya, Borno tinggal berdua saja dengan ibunya. Disisi lain, selain
dengan ibunya, Borno ‘hidup’ dengan orang-orang yang menyayanginya. Ada Andi,
sahabat karib Borno sejak masih ingusan. Bang Togar, walaupun perawakannya
keras tetapi ia memiliki hati yang lembut. Cik Taulani, pemilik warung makan ditepian
Kapuas bermulut nyinyir. Koh Acong, pedagang cina yang hitungannya tak pernah
meleset, serta Bang Jauhari dan petugas timer
selalu melengkapi hari-hari Borno. Ada pula Pak Tua, seseorang yang bijak dan
selalu memberikan petuah-petuah yang indah. Hingga datanglah Mei, gadis sendu
nan menawan yang akhirnya mengisi dan mengombang-ambingkan hati Borno.
Awal
mula kisah ini berawal dari Borno yang sering bergonta-ganti pekerjaan. Pegawai
pabrik karet, penjagan karcis, hingga petugas SPBU pernah Ia coba sebelum
akhirnya Ia menjadi pengemudi sepit.
Menjadi pengemudi sepit-lah akhirnya
Borno bertemu dengan cinta pertamanya yaitu Mei. Mei adalah seorang gadis
peranakan Cina yang bekerja pada yayasan keluarganya. Mei sengaja menjatuhkan
sebuah amplop merah didasar sepit
Borno yang membuat Borno mengira itu adalah barang penting dan berusaha mencari
pemiliknya untuk dikembalikan.
Sejak
itulah kisah cinta sederhana ‘Bujang berhati lurus’ ini dimulai. Tingkah laku
Borno yang ‘aneh’ dimulai. Diawali dari Borno yang selalu mengantre antrean sepit nomor tiga belas demi melihat Mei
berangkat kerja, sengaja memperlambat laju sepitnya agar bisa berbincang dengan
Mei, hingga mendatangi rumahnya dan bertemu dengan ‘satpam galak’penjaga rumah
Mei. Hingga akhirnya Mei menjauhi dirinya. Ia pergi tanpa alasan,
Pemuda
manapun tentu saja sedih apabila sang kekasih menjauhi dirinya. Ditengah
kegalauannya, datanglah Sarah, dokter gigi cantik nan ceria yang sedikit banyak
mengubah suasana hati Borno. Namun, Sarah yang begitu cemerlang tak mampu
menggantikan Mei dihati Borno. Borno akhirnya mencoba mencari Mei. Dimulai dari
kantor yayasan, temapt dimana Mei bekerja hingga ke rumah Mei. Tapi, usaha Borno
tersebut sia-sia. Usaha Borno selanjutnya adalah berkomunikasi dengan Mei
menggunakan surat yang ia titipkan kepada Bibi penjaga rumah Mei, meskipun Mei
tak pernah membalas surat-suratnya.
Suatu
ketika, saat final lomba sepit tujuh belas Agustusan, tiba-tiba saja Bibi
memberikan surat dari Mei yang isinya membuat hati Borno kecewa : Mei kembali
ke Surabaya. Mei menghilang dari hidup Borno kesekian kalinya. Tapi cerita
Borno masih berlanjut, Borno memang kehilangan Mei, tapi demi Mei, Borno
mencoba ikhlas.
6
bulan berlalu, 1 tahun terlewati. Rahasia akhirnya terungkap. Borno mendapat
kabar kalau Mei sakit keras di Surabaya. Sebelum menyusul Mei ke Surabaya, Bibi
meminta Borno untuk membaca amplop yang dulu pernah ditinggalkan Mei didasar
sepit. Disitulah semua rahasia terungkap. Amplop itu nyatanya sebuah surat yang
menyimpan teka-teki mengapa Mei menjauhinya. Semua misteri terungkap jelas diamplop
merah itu.
Novel
Kau,Aku,dan Sepucuk Angpau Merah merupakan
novel best seller karya Tere Liye.
Seperti novel Sunset Bersama Rosie yang
juga merupakan karya Tere Liye, novel ini memberikan arti persahabatan yang
terikat dalam waktu dua puluh tahun antara Rosie dan Tegar. Mereka tidak pernah
mendapat kesempatan berbicara tentang cinta hanya karena nama mereka mengandung
arti filosofis menyakitkan. Novel Sunset
Bersama Rosie terbilang sebagai bacaan yang melankonis karena mengisahkan
tentang persahabatan menjadi cinta dengan perjalanan untuk mencapainya yang
sulit. Sedangkan novel Kau,Aku,dan
Sepucuk Angpau Merah lebih terkesan sebagai bacaan kisah cinta sederhana
sepasang manusia berbeda budaya.
Novel
ini menceritakan kisah cinta sederhana yang diceritakan dengan penuh perjuangan
dan kejutan. Jalan cerita tidak mudah ditebak, sehingga membuat pembaca ingin
terus membaca kelanjutannya. Tere Liye berhasil memainkan perasaan para pembaca
melalui perasaan tokoh Borno yang dengan cepat dibuat berubah.
Selain
kisah Borno dan Mei, Tere Liye juga menceritakan tokoh lain yang tak kalah
menarik. Semisal tokoh Bang Togar dengan karakter yang diawal cerita begitu
menyebalkan dibanding Cik Taulani, pemilik warung makan dari melayu bermulut
nyinyir tetapi baik hati. Karakter Koh Acong yang pandai mencongak tanpa salah,
keturunan Tionghoa lengkap dengan gaya khasnya. Ada pula Pak Tua yang arif nan
bijak dengan kata-katanya bak filosof. Walaupun mereka tak lebih berperan
sebagai cameo belaka, walau begitu masing-masing tokoh mendapat porsinya sesuai
cerita. Tere Liye selalu menggambarkan dengan cara yang cerdas dan kadang
jenaka.
Babak
berikutnya, walaupun ada banyak hal yang dapat diduga, tetapi selalu saja ada
kejutan istimewa. Misalnya pada sesi terapi di Surabaya, betapa kebetulannya
Borno bisa bertemu dengan Mei yang menemani neneknya terapi di klinik
alternatif. Ada juga betapa beruntung dan mudahnya Borno sengaja dipertemukan
dengan dokter gigi cantik yang ternyata pernah bertemu di lorong rumah sakit
tanpa salah mengenali muka dan nama Borno sekalipun.
Ada
hal penting yang tampaknya begitu ingin diungkap Tere Liye dalam karyanya ini,
bukan hanya kisah cinta sederhana sepasang manusia berbeda budaya, melainkan
tata nilai demokrasi betapa indah dan penuh cintanya toleransi yang ada pada
cerita ini.
Berbagai
macam ras terwakili oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Bukan hanya Mei yang
keturunan cina dan Borno yang asli Pontianak, tetapi nilai kekeluargaan seolah
sengaja dijalin dengan rapi sehingga tidak ada istilah tetangga atau saudara
jauh. Semuanya adalah satu rumpun. Masing-masing tak merasa sebagai salah satu
keturunan tertentu, semisal Pak Tua yang menceritakan “siapa disini yang berani bilang Koh Acong bukan penduduk asli
Pontianak?” (hal 195).
Latar
tempat cerita yang berada di Pontianak membuat pembacanya seolah bisa mengenali
seluk-beluk Kota Pontianak. Letak
Sungai Kapuasnya, tempat dermaga kayu, pelabuhan feri bahkan bentuk bangunan
penduduknya. Bangunan penduduk pada umumnya terbuat dari kayu, bahkan terdapat
kolong rumah panggung, dan gang sempit tempat Borno tinggal. Semua hal tersebut
sangat terasa seolah-olah para pembaca berada disana dan menyaksikan sendiri
cerita tersebut.
Dalam
novel ini pula sang novelis menceritakan sedikit cuplikan sejarah tentang
mengapa Pulau Kalimantan mayoritas penduduknya terdiri atas Melayu, Dayak dan
Cina. Cuplikan sejarah lain juga diselipkan berupa kisah cinta nan romantis
pasangan buta si Fulan dan si Fulani dari mulai umur mereka 6 tahun saat
meletus perang yang melibatkan pasukan Sekutu dan Jepang yang berhasil
dikalahkan di Pasifik, samapi era tewasnya Jenderal Mallaby lalu berlanjut ke
peristiwa G-30S/PKI, peristiwa Malari hingga krisis moneter tahun 1998 (hal
171-172). Walau hanya cuplikan sejarah dalam kisah romantis, tapi hal ini
membuktikan betapa berbobotnya kisah sederhana ini.
Yang
tercermin dalam cerita ini mungkin cukup mewakili peranan perempuan yang kedudukannya sejajar dengan kaum lelaki.
Hal ini tergambar dalam kisah Sarah yang berlomba sepit dengan pengemudi sepit
lelaki. Walau Bang Togar sempat tidak setuju dan merendahkan perempuan, tapi
nyatanya dalam perlombaan sepit itu justru Sarah-lah yang menang. Dalam hal ini
penulis sengaja menegaskan bahwa perempuan juga memiliki kemampuan yang sama
baiknya dengan lelaki.
Kekurangan
dalam novel ini adalah ending yang menggantung. Walaupun happy ending , akhir cerita dibiarkan menggantung. Seolah pembaca
sengaja dibiarkan berpikir. Tapi terlepas dari kekurangan tersebut, Tere Liye selalu
bisa menutupinya. Banyak sekali pesan yang disampaikan oleh Tere Liya dalam
tema yang sederhana ini. Dari mulai masalah solidaritas, gender, sosial sampain
pencarian hakikat cinta sejati semua diungkap dengan cara yang mudah dicerna
dan manis.
Banyak
nilai-nilai kebijaksanaan yang ada dalam cerita ini, yakni merangkaika cinta
dengan kesederhaan, tak cuma cinta sepasang kekasih, tapi juga cinta diantara
sesama tokoh dan juga cinta kepada tanah
air, khususnya kepada tempat dimana dia dibesarkan.
Tere-liye adalah seorang penulis novel berbahasa indonesia.
Lahir pada tanggal 21 Mei 1979 dan telah menghasilkan 14 buah novel. Gaya
Bahasanya yang padat namun ringan seakan memberi ciri khas tersendiri. Begitu
ringan dicerna dan tak jarang selalu membuat pembacanya merasa ‘speeshless’.
Pembahasan yang mendalam selalu membuat pembacanya merasa terlibat dalam novel
tersebut.
Terlepas dari buku fiksi yang tebal,
secara keseluruhan novel ini sangat menarik untuk dibaca. Bertemakan
kesederhanaan dalam cinta yang saya yakin semua orang tertarik untuk
membacanya. Berbeda dari novel fiksi lain dengan cerita cinta yang begitu rumit,
bertele-tele tapi tak banyak mengaduk-aduk emosi, maka novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini
layak dijadikan referensi baik itu untuk pelajar maupun umum. Karena novel ini
menggali kisah sederhana menjadi kisah yang sangat menarik untuk dibaca.
Kutipan kalimat emas dalam novel :
“Sejatinya, rasa suka
tak perlu diumbar apalagi ditulis, kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau
mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita
mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa
memang sessuka ini” (hal 428).
“Dalam urusan ini,
sembilan dari sepersepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita.
Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi
tidak”(hal 133).
“Camkan,
bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu
bisa memberi tanpa sedikitpun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa
mencintai tanpa selalu memberi”(hal 168).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar