Rabu, 02 November 2016

Resensi novel Kau,Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Jejak Cinta dari Tepian Kapuas
Judul novel     : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis            : Tere Liye
Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit    : 2013
Tebal               : 512 halaman

http://d.gr-assets.com/books/1326688274l/13414402.jpg
            “Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikitpun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi”

            Novel ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang pemuda bernama Borno. Borno lahir dan besar di kota yang penuh dengan sejarah mistis, Pontianak. Ia disebutkan sebagai ‘bujang berhati paling lurus sepanjang tepian Kapuas’ , tapi hidupnya tidak se’lurus’ sebutannya. Ayahnya tersengat ubur-ubur saat melaut memilih untuk mendonorkan jantungnya pada seorang pasien gagal jantung. Pilihan ayahnya membawa konsekuensi pada berakhirnya detak jantung ayah Borno. Sejak itulah Borno menjadi anak yatim.

            Sejak ditinggal ayahnya, Borno tinggal berdua saja dengan ibunya. Disisi lain, selain dengan ibunya, Borno ‘hidup’ dengan orang-orang yang menyayanginya. Ada Andi, sahabat karib Borno sejak masih ingusan. Bang Togar, walaupun perawakannya keras tetapi ia memiliki hati yang lembut. Cik Taulani, pemilik warung makan ditepian Kapuas bermulut nyinyir. Koh Acong, pedagang cina yang hitungannya tak pernah meleset, serta Bang Jauhari dan petugas timer selalu melengkapi hari-hari Borno. Ada pula Pak Tua, seseorang yang bijak dan selalu memberikan petuah-petuah yang indah. Hingga datanglah Mei, gadis sendu nan menawan yang akhirnya mengisi dan mengombang-ambingkan hati Borno.

            Awal mula kisah ini berawal dari Borno yang sering bergonta-ganti pekerjaan. Pegawai pabrik karet, penjagan karcis, hingga petugas SPBU pernah Ia coba sebelum akhirnya Ia menjadi pengemudi sepit. Menjadi pengemudi sepit-lah akhirnya Borno bertemu dengan cinta pertamanya yaitu Mei. Mei adalah seorang gadis peranakan Cina yang bekerja pada yayasan keluarganya. Mei sengaja menjatuhkan sebuah amplop merah didasar sepit Borno yang membuat Borno mengira itu adalah barang penting dan berusaha mencari pemiliknya untuk dikembalikan.

            Sejak itulah kisah cinta sederhana ‘Bujang berhati lurus’ ini dimulai. Tingkah laku Borno yang ‘aneh’ dimulai. Diawali dari Borno yang selalu mengantre antrean sepit nomor tiga belas demi melihat Mei berangkat kerja, sengaja memperlambat laju sepitnya agar bisa berbincang dengan Mei, hingga mendatangi rumahnya dan bertemu dengan ‘satpam galak’penjaga rumah Mei. Hingga akhirnya Mei menjauhi dirinya. Ia pergi tanpa alasan,

            Pemuda manapun tentu saja sedih apabila sang kekasih menjauhi dirinya. Ditengah kegalauannya, datanglah Sarah, dokter gigi cantik nan ceria yang sedikit banyak mengubah suasana hati Borno. Namun, Sarah yang begitu cemerlang tak mampu menggantikan Mei dihati Borno. Borno akhirnya mencoba mencari Mei. Dimulai dari kantor yayasan, temapt dimana Mei bekerja hingga ke rumah Mei. Tapi, usaha Borno tersebut sia-sia. Usaha Borno selanjutnya adalah berkomunikasi dengan Mei menggunakan surat yang ia titipkan kepada Bibi penjaga rumah Mei, meskipun Mei tak pernah membalas surat-suratnya.

            Suatu ketika, saat final lomba sepit tujuh belas Agustusan, tiba-tiba saja Bibi memberikan surat dari Mei yang isinya membuat hati Borno kecewa : Mei kembali ke Surabaya. Mei menghilang dari hidup Borno kesekian kalinya. Tapi cerita Borno masih berlanjut, Borno memang kehilangan Mei, tapi demi Mei, Borno mencoba ikhlas.

            6 bulan berlalu, 1 tahun terlewati. Rahasia akhirnya terungkap. Borno mendapat kabar kalau Mei sakit keras di Surabaya. Sebelum menyusul Mei ke Surabaya, Bibi meminta Borno untuk membaca amplop yang dulu pernah ditinggalkan Mei didasar sepit. Disitulah semua rahasia terungkap. Amplop itu nyatanya sebuah surat yang menyimpan teka-teki mengapa Mei menjauhinya. Semua misteri terungkap jelas diamplop merah itu.

            Novel Kau,Aku,dan Sepucuk Angpau Merah merupakan novel best seller karya Tere Liye. Seperti novel Sunset Bersama Rosie yang juga merupakan karya Tere Liye, novel ini memberikan arti persahabatan yang terikat dalam waktu dua puluh tahun antara Rosie dan Tegar. Mereka tidak pernah mendapat kesempatan berbicara tentang cinta hanya karena nama mereka mengandung arti filosofis menyakitkan. Novel Sunset Bersama Rosie terbilang sebagai bacaan yang melankonis karena mengisahkan tentang persahabatan menjadi cinta dengan perjalanan untuk mencapainya yang sulit. Sedangkan novel Kau,Aku,dan Sepucuk Angpau Merah lebih terkesan sebagai bacaan kisah cinta sederhana sepasang manusia berbeda budaya.

            Novel ini menceritakan kisah cinta sederhana yang diceritakan dengan penuh perjuangan dan kejutan. Jalan cerita tidak mudah ditebak, sehingga membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutannya. Tere Liye berhasil memainkan perasaan para pembaca melalui perasaan tokoh Borno yang dengan cepat dibuat berubah.

            Selain kisah Borno dan Mei, Tere Liye juga menceritakan tokoh lain yang tak kalah menarik. Semisal tokoh Bang Togar dengan karakter yang diawal cerita begitu menyebalkan dibanding Cik Taulani, pemilik warung makan dari melayu bermulut nyinyir tetapi baik hati. Karakter Koh Acong yang pandai mencongak tanpa salah, keturunan Tionghoa lengkap dengan gaya khasnya. Ada pula Pak Tua yang arif nan bijak dengan kata-katanya bak filosof. Walaupun mereka tak lebih berperan sebagai cameo belaka, walau begitu masing-masing tokoh mendapat porsinya sesuai cerita. Tere Liye selalu menggambarkan dengan cara yang cerdas dan kadang jenaka.

            Babak berikutnya, walaupun ada banyak hal yang dapat diduga, tetapi selalu saja ada kejutan istimewa. Misalnya pada sesi terapi di Surabaya, betapa kebetulannya Borno bisa bertemu dengan Mei yang menemani neneknya terapi di klinik alternatif. Ada juga betapa beruntung dan mudahnya Borno sengaja dipertemukan dengan dokter gigi cantik yang ternyata pernah bertemu di lorong rumah sakit tanpa salah mengenali muka dan nama Borno sekalipun.

            Ada hal penting yang tampaknya begitu ingin diungkap Tere Liye dalam karyanya ini, bukan hanya kisah cinta sederhana sepasang manusia berbeda budaya, melainkan tata nilai demokrasi betapa indah dan penuh cintanya toleransi yang ada pada cerita ini.

            Berbagai macam ras terwakili oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Bukan hanya Mei yang keturunan cina dan Borno yang asli Pontianak, tetapi nilai kekeluargaan seolah sengaja dijalin dengan rapi sehingga tidak ada istilah tetangga atau saudara jauh. Semuanya adalah satu rumpun. Masing-masing tak merasa sebagai salah satu keturunan tertentu, semisal Pak Tua yang menceritakan “siapa disini yang berani bilang Koh Acong bukan penduduk asli Pontianak?” (hal 195).

            Latar tempat cerita yang berada di Pontianak membuat pembacanya seolah bisa mengenali seluk-beluk Kota Pontianak.        Letak Sungai Kapuasnya, tempat dermaga kayu, pelabuhan feri bahkan bentuk bangunan penduduknya. Bangunan penduduk pada umumnya terbuat dari kayu, bahkan terdapat kolong rumah panggung, dan gang sempit tempat Borno tinggal. Semua hal tersebut sangat terasa seolah-olah para pembaca berada disana dan menyaksikan sendiri cerita tersebut.

            Dalam novel ini pula sang novelis menceritakan sedikit cuplikan sejarah tentang mengapa Pulau Kalimantan mayoritas penduduknya terdiri atas Melayu, Dayak dan Cina. Cuplikan sejarah lain juga diselipkan berupa kisah cinta nan romantis pasangan buta si Fulan dan si Fulani dari mulai umur mereka 6 tahun saat meletus perang yang melibatkan pasukan Sekutu dan Jepang yang berhasil dikalahkan di Pasifik, samapi era tewasnya Jenderal Mallaby lalu berlanjut ke peristiwa G-30S/PKI, peristiwa Malari hingga krisis moneter tahun 1998 (hal 171-172). Walau hanya cuplikan sejarah dalam kisah romantis, tapi hal ini membuktikan betapa berbobotnya kisah sederhana ini.

            Yang tercermin dalam cerita ini mungkin cukup mewakili peranan perempuan  yang kedudukannya sejajar dengan kaum lelaki. Hal ini tergambar dalam kisah Sarah yang berlomba sepit dengan pengemudi sepit lelaki. Walau Bang Togar sempat tidak setuju dan merendahkan perempuan, tapi nyatanya dalam perlombaan sepit itu justru Sarah-lah yang menang. Dalam hal ini penulis sengaja menegaskan bahwa perempuan juga memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan lelaki.

            Kekurangan dalam novel ini adalah ending yang menggantung. Walaupun happy ending , akhir cerita dibiarkan menggantung. Seolah pembaca sengaja dibiarkan berpikir. Tapi terlepas dari kekurangan tersebut, Tere Liye selalu bisa menutupinya. Banyak sekali pesan yang disampaikan oleh Tere Liya dalam tema yang sederhana ini. Dari mulai masalah solidaritas, gender, sosial sampain pencarian hakikat cinta sejati semua diungkap dengan cara yang mudah dicerna dan manis.

            Banyak nilai-nilai kebijaksanaan yang ada dalam cerita ini, yakni merangkaika cinta dengan kesederhaan, tak cuma cinta sepasang kekasih, tapi juga cinta diantara sesama tokoh dan juga  cinta kepada tanah air, khususnya kepada tempat dimana dia dibesarkan.

            Tere-liye adalah seorang penulis novel berbahasa indonesia. Lahir pada tanggal 21 Mei 1979 dan telah menghasilkan 14 buah novel. Gaya Bahasanya yang padat namun ringan seakan memberi ciri khas tersendiri. Begitu ringan dicerna dan tak jarang selalu membuat pembacanya merasa ‘speeshless’. Pembahasan yang mendalam selalu membuat pembacanya merasa terlibat dalam novel tersebut.

Terlepas dari buku fiksi yang tebal, secara keseluruhan novel ini sangat menarik untuk dibaca. Bertemakan kesederhanaan dalam cinta yang saya yakin semua orang tertarik untuk membacanya. Berbeda dari novel fiksi lain dengan cerita cinta yang begitu rumit, bertele-tele tapi tak banyak mengaduk-aduk emosi, maka novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini layak dijadikan referensi baik itu untuk pelajar maupun umum. Karena novel ini menggali kisah sederhana menjadi kisah yang sangat menarik untuk dibaca.

Kutipan kalimat emas dalam novel :
“Sejatinya, rasa suka tak perlu diumbar apalagi ditulis, kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sessuka ini” (hal 428).
“Dalam urusan ini, sembilan dari sepersepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak”(hal 133).
“Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikitpun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi”(hal 168).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar